Tergesa-Gesa Demi Angan-Angan

tergesa-gesa

tergesa-gesa

Manusia selalu hidup dengan keinginan dan angan-angan. Darinya, muncul semangat untuk meraih apa yang diangan-angankan itu.

Selama semangat meraih impian itu berada dalam koridor yang benar, maka di sana terkandung banyak kebaikan.

Bukankah yang menjadi pembeda antara kita dengan malaikat, yang menjadi salah satu alasan mengapa kita didapuk sebagai khalifah di muka bumi, adalah karena kita dikaruniai hasrat untuk terus menerus mengikhtiarkan kehidupan yang lebih baik?

Malaikat memiliki ketaatan, tapi ia tidak dibekali hasrat (syahwat) dalam urusan-urusan duniawi. Maka malaikat tak cocok diamanahi dunia.

Binatang memiliki syahwat. Tapi akal tidak punya.

Jin juga punya syahwat juga sebagian akal, tapi akalnya tak sesempurna manusia.

Manusia berpotensi serakah karena syahwatnya, juga berpotensi taat karena akalnya. Kondisi ideal yang diinginkan dari dua hal yang saling berlawanan tersebut, adalah dengan akal yang dimilikinya, keserakahan itu mampu diredam, dituangkan, dan dikemas menjadi hal maslahat yang kita sebut dengan “mengejar sukses”,”keberhasilan”,”kejayaan” dan kondisi lainnya di mana ia tak dilarang oleh agama.

Sayangnya, ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keyakinan dengan takdirNya yang dimotori oleh akal, kadang lebih sering dikalahkan. Lalu angan-angan mendominasi dan ia tertuangkan dalam perbuatan-perbuatan ambisius.

Sebelum kita berbicara bahwa perbuatan yang didasari oleh syahwat akan mengakibatkan banyak keburukan bahkan berujung kemaksiatan, ada baiknya kita melihat satu tahap awal sikap syahwati yang kelak akan menjadi pintu masuk pada perilaku-perilaku buruk dan maksiat itu sendiri. Yaitu, sikap TERGESA-GESA (Isti’jal)

Inilah sikap yang menjadi barometer awal keadaan hati seseorang. Sikap tergesa-gesa, selalu berbanding lurus dengan dominasi syahwat duniawi dalam hati. Setiap kita punya sisi buruk ini. Ketergesaan akan selalu menghiasi kehidupan kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu ayat-ayatKu. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkannya dengan segera,” (QS. Al-Anbiya:37)

“maksud firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu ayat-ayatKu” kata Syaikh Said Hawwa dalam tafsirnya “Al Asas”, adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak akan mendatangkan nikmatNya, perhitunganNya, dan ketetapanNya. Ini sebuah peringatan, bila seseorang menuruti tabiatnya, yaitu tergesa-gesa, boleh jadi ia akan jatuh pada dosa dan dia harus mempertanggungjawabkan. Sebaliknya, bila ia berhasil bersabar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjanjikan balasan besar bagi kesabarannya.

Kita sadar bahwa tergesa-gesa tidak ada baiknya.

Kadang kita menyadari dampak buruk sikap tergesa-gesa di awal sebelum jatuh pada ketergesaan, kadang ketika di pertengahan, kadang di akhir, kadang celakanya, tidak sadar sama sekali.

Hidup selalu berkejaran dengan angan-angan, ingin segera selesai, tidak sabar, tidak menyadari nikmat, belum selesai satu urusan menuntut diri memperoleh hasil yang lain.

Sampai kapan seperti ini? (Wallaahu A’lam Bisshowab).

NH – Hikmah Utama I – Edisi 168

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *