Menyambung Tali Keberkahan

tali keberkahan

Dalam kehidupan sehari-hari, tak terhitung berapa kali kita mengucapkan kata barakah. Ketika bertemu dengan seseorang kita berkata “Assalaamu’alaykum warahmatullahi wa BARAKATUH”.

Ketika tahiyat dalam shalat kita bershalawat “wa BAARIK ‘alaa Muhammad wa’alaa aali Muhammad…”.

Dalam doa qiyamullail kita berdoa “wa BAARIk LII fiima a’thaita”.

Ketika menghadiri pernikahan kepada mempelai kita ucapkan “BARAKALLAHU LAKA wa BARAKA ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khair.”

Lalu apa makna barakah itu?

Makna asal dari barakah adalah keteguhan (attsubuut), konsistensi (ad-dawam) dan stabil (al-istiqrar). Alam semesta beserta makhluk-makhluk yang mengisinya berada dalam naungan barakah Allah. Sehingga keadaannya dari dulu hingga sekarang tetap teguh, konsisten dan stabil.

Maka Allah berfirman,”TABARAKALLADZII biyadihil mulku”. Adapun bila kita mengatakan barakallah, maka kita mendoakan semoga Allah meneguhkan, menetapkan, dan tak menggoyahkan kebaikan pada dirimu. Sebagaimana Allah konsisten memberikan kebaikan kepada kehidupan alam semesta.

Sementara barakah juga diartikan semakin berkembang, bertambah dan banyaknya kebaikan. Barakah dalam harta, berarti berkembang dan bertambahnya harta. Barakah dalam keluarga, berarti keadaannya tenteram, tenang, dan makin hari makin bertambah kasih sayang. Barakah dalam makanan berarti tidak kekurangan, terpenuhi  kehalalan dan kebaikannya. Barakah dalam keturunan, artinya banyak anak dan baik akhlaknya. Barakah dalam ilmu berarti semakin bertambah dan dapat diamalkan. Barakahnya waktu berarti bisa menyelesaikan segala urusannya dengan baik, berisi kemanfaatan, jauh dari kesia-siaan dan kelalaian. Dan yang paling utama, semua pertambahan kebaikan itu membuat semakin dekat dan taat kepada Allah Ta’ala. Bukan melalaikannya.

Singkatnya, Barakah adalah berkempulnya segala macam kebaikan dari Allah yang membuat semakin bertambahnya ketaatan.

Barakah tak selalu diterjemahkan dalam berlimpahnya kenikmatan-kenikmatan. Kadang terjadi anomali.

Mereka yang hidupnya berlimpah-limpah justru jauh dari barakah.

Ada sebuah ungkapan”barakah belum tentu berlimpah, tapi berlimpah adalah bagian dari barakah”. Sehingga bukan berarti orang yang lemah secara penghidupan dianggap hidupnya tidak barakah. Tali simpul barakah selalu tersambung kepada Allah, maka bila kebaikan Allah sedang mewujud pada seseorang, di situlah berarti ia teraliri barakah. Tak peduli menurut orang lain dianggap hidupnya susah atau senang. Karena memang, kebaikan Allah selalu di antara dua keadaan. Kalau tak keberlimpahan, ya kecukupan. Kalau tak lebat, grojok-grojok, ya gerimis, rintik-rintik tapi menentramkan. Allah Ta’ala berfirman

“dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,” (QS. An-Najm: 48)

“..seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 265).

Syaikh Wahbah Zuhaili menjelaskan dalam tafsirnya, ayat ini menggambarkan bahwa keadaan seorang mukmin bisa jadi berlimpah (seperti diberi hujan lebat), atau hanya berkecukupan (seperti dihujani gerimis). Namun keduanya tetap berada dalam kebaikan dan keberkahan. Hal itu dikarenakan jiwanya telah dipenuhi keimanan dan keyakinan kepada Allah. Jiwanya tetap subur dan lapang. Ia tetap mengalirkan manfaat dengan keadaan kaya dan cukupnya.

Seseorang yang hidupnya diberkahi, akan terlihat jelas kebaikan-kebaikan Allah yang ada pada dirinya. Melihat orang-orang yang hidupnya diberkahi, membuat kita melihat Allah dan segala kebaikanNya. Diamnya saja, membuat kita memuji Allah Ta’ala.

Itulah keberkahan.

Kebaikannya meluap-luap hingga memancar kepada siapapun di sekelilingnya. Coba ingat-ingat, adakah sosok-sosok yang kita kenal mewakili tanda-tanda barakah ini? Tidakkah kita ingin menirunya?

Barakah, terkadang bekerja dengan alur dan cara yang sulit dilogika. Orang-orang yang menghitung kelangsungan hidup hanya dengan angka-angka akan sering berkata,”Kok bisa ya..Kok bisa ya..”, karena tak masuk akal baginya. Sedangkan orang yang yakin kepada Allah akan berkata,”Ya bisa dong…Ya bisa, kok..”. Hehehe..

Mari kita ikuti beberapa kisah tentang keberkahan. Adalah sahabat Rasulullah Jabir bin Abdullah termasuk yang takjub dengan cara kerja”barakah” ini. Peristiwanya terjadi di moment perang Khandaq. Latar belakang perang ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan sekutunya akan melakukan penyerbuan ke kota Madinah. Sehingga sebelum mereka datang, Rasulullah dan para sahabat membuat parit di pinggiran kota Madinah.

Jabir bin Abdullah berkata,”Tatkala penggalian parit pertahanan Khandaq sedang dilaksanakan, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan lapar. Karena itu aku kembali kepada istriku, menanyakan kepadanya,’Apakah engkau mempunyai makanan? Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang lapar.’

Maka istrinya mengeluarkan suatu karung, di dalamnya terdapat satu sha’ (segantang) gandum. Di samping itu mereka mempunyai seekor anak kambing. Itulah makanan dan hewan satu-satunya yang mereka miliki. Lalu Jabir menyembelih kambing itu, sementara istrinya membuat adonan tepung.

Ketika Jabir selesai mengerjakan pekerjaannya, Jabir lalu memotong kecil-kecil daging kambing tersebut dan dimasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebelum Jabir keluar, istrinya bersegera lari menyusul dan mengingatkan Jabir: ‘janganlah kamu mempermalukanku di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau, ya..!’ Maksudnya, makanan yang mereka buat tidak cukup memenuhi ribuan orang yang sedang menggali parit itu. Jangankan semuanya, untuk seperlima dari mereka saja tidak cukup. Jadi yang diajak makan beberapa orang saja, jangan semuanya, karena kalau semuanya pasti banyak yang tidak kebagian. Dan kalau sudah begitu istri Jabir malu kepada Rasulullah.

Jabir mengangguk setuju.

Tak perlu diingatkan, pastilah ia tahu bahwa tak mungkin semuanya diajak makan. Jabir langsung menemui Nabi, agar tidak ketahuan yang lain, ia berbisik kepada beliau,’Ya Rasulallah, Aku menyembelih seekor anak kambing milikku, dan istriku telah membuat adonan segantang gandum yang kami miliki. Karena itu sudilah kiranya anda datatng bersama-sama dengan beberapa orang sahabat.’

Di luar dugaan Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit. Lalu berteriak kepada semua orang:’Hai para penggali Khandaq! Jabir telah membuat hidangan untuk kalian. Marilah kita makan bersama-sama!”

Sontak Jabir matanya terbelalak. Wajahnya pucat. Kehilangan kata-kata, bahkan seperti kehilangan nyawa. Bingung ia hendak berbuat apa. Melarang Nabi jelas tidak mungkin. Apalagi semua orang sudah terlanjur menoleh mendengar teriakan nabi, dan melemparkan pandangan kea rah Jabir dengan penuh pengharapan dan terima kasih. Namun kali ini, senyum para sahabat itu justru tampak menakutkan bagi Jabir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepada Jabir:’Jangan kamu menurunkan periukmu dan janganlah kamu memasak adonan rotimu sebelum aku datang’. Lalu Jabir pulang dengan dada berdebar. Tak tahu apa yang harus dikatakan kepada istrinya.

Tidak lama kemudian Rasulullah datang lalu diikuti oleh para sahabat. Melihat rombongan besar datang menggeruduk rumahnya, sang istri kaget bukan buatan, ia gemas seperti ingin menelan Jabir, sambil berkata,’Bagaimana engkau ini!’ Bagaimana engkau ini!’

Jabir hanya menjawab pasrah,’Aku telah melakukan apa yang engkau pesankan kepadaku’. Lantas Jabir mengeluarkan adonan rotinya. Kemudian Nabi membasahi adonan itu dengan ludah beliau yang mulia untuk memberikan keberkahan. Setelah itu beliau menuju periuk (tempat memasak kambing), maka beliau meludahi dan mendoakan keberkahan kepadanya, sesudah itu beliau berkata kepada istri Jabir:’Panggillah tukang roti untuk membantumu memasak. Nanti isikan gulai ke mangkok langsung dari kuali dan sekali-kali jangan kamu menurunkan periukmu.”

Jabir terbelalak mata kedua kalinya. Tapi kali ini karena takjub. Kepada kita, ia mereportase kisah menakjubkannya itu:

“Para sahabat semuanya yang makan berjumlah seribuan orang. Demi Allah, semuanya turut makan dan setelah itu mereka pergi. Tetapi periuk kami masih tetap penuh berisi seperti semula. Sedangkan adonan masih seperti semula.” (Shahih Bukhari: 3793)

Itulah barakah.

Keberkahan semua dari Allah.

Karenanya, tak layak ditanya sejauh mana. Karena barakah Allah tidak ada batasnya. Ia berbentuk dan terskenario dengan cara apa saja sesuai kehendaknNya.

Maka dalam barakah Allah, gulai satu kuali bisa untuk seribu orang. Adalah barakahNya juga, beragam makanan dan buah-buahan turun dari langit sebagai hari raya untuk Nabi Isa dan hawarinya. Yang karenanya kemudian Nabi Isa berkata,

”Dia menjadikan aku seorang yang BARAKAH.” (QS. Maryam: 31).

Adalah barakahNya juga, seorang bergaji jauh di bawah UMK tapi cukup menghidupi istri dan tiga anaknya. Adalah barakahNya juga, seorang anak tukang becak lulus dengan nilai terbaik Nasional. Adalah barakahNya, ustadz pengajar TPQ bisa berangkat umrah. Adalah barakahnya juga, harta sudah disedekahkan kemana-mana, eh, malah kembali lagi dengan yang lebih banyak. Itulah barakah, barakah, barakah….

Allah Maha Kaya, Allah Pemilik dan sumber segala kebaikan. Hanya Allah, tidak ada selain Allah, yang memiliki keberkahan itu. Dialah Allah, dengan keberkahanNya ia awali dengan mencipta alam semesta dan makhluk-makhlukNya. Lalu dengan barakahNya pula ia memelihara.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, yang menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Barakah Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.Al-A’raff:54)

Keberkahan sepenuhnya adalah milik Allah. Maka apaun yang terhubung kepada Allah, pasti mandapatkan percikan barakahNya. Nabi-nabiNya barakah, kitab sucinya barakah, malaikatNya barakah, masijid-masjidNya barakah, dan hamba-hambaNya yang taat kepadaNya juga ternaungi barakah.

Barakah Allah diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Maka pastikan kita terhubung melalui tali keimanan dan ketakwaan dan jangan sampai lepas. Wallahu A’lam bisshowab. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *