Keluarga Pas-Pasan, Masuk Sini

keluarga islam

Saudariku para Muslimah, bila takdir sedang meletakkanmu dalam sebuah rumah kos yang sederhana, sering terengah-engah mengejar limit biaya kontrakan, tambal sulam anggaran bulanan untuk memenuhi kebutuhan, semoga kelak di Surga, engkaulah salah satu wanita beruntung yang mendapat sapaan dan pelukan putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Fatimah Az Zahrah.

Menyandang status sebagai putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, putri penguasa Madinah, tak serta menjadikan beliau bergelimang dengan kemewahan dunia.

Justru sebaliknya, dipersunting oleh pria Miskin yang sekaligus kerabatnya, Yaitu Ali bin Abi Thalib, mengakibatkan keluarga ini terdesak dalam kondisi yang serba kekurangan.

Dikisahkan ketika Ali mengkhitbah Fatimah, maharnya adalah baju perangnya. Karena tidak punya uang sepeserpun, akhirnya baju besipun dijadikan mahar.

Fatimah menerimanya dengan ridha.

Tak seperti ibunya (khadijah), yang saat dinikahi ayahnya menerima mahar 25 ekor unta merah, Fatimah menerima baju perang yang lebih tampak seperti besi rongsokan daripada perhiasan.

Berbeda dengan sahabat senior seperti Abu Bakar dan Usman yang berlatar pedagang, masa muda Ali di Mekkah langsung dihadapkan dengan dakwah. Berlanjut di Madinah, Ali senantiasa dilibatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan. Sehingga ia tak punya banyak kesempatan untuk membangun sumber penghasilan.

Diluar alasan-alasan itu, kita yakini bahwa takdir memang sedang menggerakkan keluarga Ali dan Fatimah dalam ruang kesederhanaan. Mereka memperoleh kemuliaannya, dengan dijauhkannya kemegahan dunia dari kehidupan mereka.

Sebuah paradoksal yang mengiris perasaan, seorang putri penguasa, justru masuk daftar keluarga miskin di kota. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati mereka.

Soal miskinnya keluarga ini, telah dikisahkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. Suatu ketika Fatimah datang ke rumah Ayahnya. Ia hendak mengeluhkan keadaannya. Ia tak lagi mampu menggiling gandumnya sendiri, sebab telapak tangannya sudah melepuh oleh gagang penggilingan. Belum lagi ia harus  mengurus dua anaknya, Hasan dan Husein seorang diri.

Fatimah hendak meminta bantuan sang ayah agar diberikan seorang pembantu. Ia bertemu dengan Aisyah dan tak bertemu dengan sang ayah. Fatimah menitipkan pesannya.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang, Aisyah menyampaikan titipan pesan dari Fatimah. Sang Ayah menghela nafas. Ayah mana yang tak iba dengan keadaan putrinya seperti itu. Beliau bergegas menuju rumah Ali dan Fatimah.

Ali bercerita,”nabi datang ke rumah kami, sementara kami sedang bersiap-siap untuk tidur, aku hendak berdiri (menyambut), tetapi beliau bersabda, “tetaplah kalian ditempat”.

Lalu beliau duduk di antara kami, beliau bersabda “maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta kepadaku, Jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah 34x, bertasbihlah 33x, dan bertahmidlah 33x, ia lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu”.

Inti dari nasehat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu ada dua.

Pertama, amaliah wirid sebelum tidur.

Kedua, bersabarlah dalam ujian.

Nasehat beliau ini, juga berlaku untuk kita.

Wallahu A’lam bisshowab. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *