Istri Lebih Sukses, Suami Sholehnya “Keterlaluan”

wanita hijab

Inspirasi yang dapat kita ambil dari Ibunda Khadijah adalah kesanggupannya menjadi makmum yang baik meskipun kedudukannya lebih sukses dari suaminya.

Cerita singkatnya, Muhammad muda bekerja kepada Ibunda Khadijah yang saat itu skala bisnisnya merupakan salah satu yang terbesar di Mekkah.

Kurun berlanjut, Khadijah kagum dengan akhlak dan kejujuran Muhammad muda. Rasa kagumnya mengkristal menjadi rasa cinta.

Akhirnya Khadijah memutuskan untuk menikah dengan Muhammad muda pada usia 40 tahun. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam waktu itu berusia 25 tahun.

Dalam sudut pandang ekonomi, pernikahan mereka tak umum.

Rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Khadijah, berada dalam posisi status ekonomi istri lebih baik daripada suami. Makmumnya lebih sukses daripada imamnya.

Hari ini, tak sulit rasanya mencari potret ekonomi suami-istri macam rumah tangga Ibunda Khadijah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Terjunnya wanita ke ruang publik akan meniscayakan kemungkinan naiknya strata sosial dan ekonomi mereka dibanding pasangannya. Atau juga, strata sosial dan ekonomi seorang wanita diperoleh dari nasab atau keturunan. Tentu saja kebaikan-kebaikan dunia yang Allah Subhanhu wa Ta’ala berikan tersebut harus disyukuri dan bisa disikapi dengan baik.

Apabila anda, para istri, termasuk yang mengalami hal yang demikian, ingat-ingatlah, barangkali jalur Surga anda sedang dalam rangkaian yang ujungnya berada di bawah panji Ibunda Khadijah.

Keadaan seorang istri yang memiliki status sosial dan ekonomi yang lebih baik dari suaminya adalah ujian. Bahkan, kalau boleh jujur terkategori ujian berat. Kemampuan lulus dengan cantik dari ujian tersebut, adalah sebuah prestasi besar. Sebab, tak banyak yang berhasil melewati ujian ini.

Mungkin disitulah surga kita.

Dengan meniatkan usaha dan karir semata membantu beban rumah tangga, lalu tak menjadikan ia prioritas utama hingga mengalahkan keluarga, lalu berhasil menjaga “keimaman” suami dalam pandangannya, InsyaAllah ia menjadi sebuah kebaikan tersendiri.

Akan tetapi daripada menganggap keberhasilan kita (para istri) sebagai sebuah kesuksesan, akan lebih memberikan sinyal kewaspadaan bila ia kita sebut sebagai sebuah ujian.

Ya, Ujian.

Sebab, tak sedikit wanita-wanita berkeuangan lebih baik dari suami, mereka gagal membawa diri di rumah tangganya.

Barangkali seorang wanita “rumahan” yang ia bergantung sepenuhnya pada nafkah suami, hari-harinya habis untuk mengurus keluarga dan anak-anak, tak terlalu sulit untuk merendahkan suara dihadapan suaminya.

Tak sulit untuk menahan kata-kata agar tak menyelisihi perkataan suaminya ketika sebuah perdebatan berlangsung. Apalagi, tak mungkin ia mengatur-atur suaminya dalam sebuah urusan, sementara ia tak pernah membuktikan keberhasilannya soal memanajemen perusahaan.

Kesuksesan di luar sana, kadang tanpa disadari membawa imbas dalam rumah tangga.

Keahlian-keahlian yang terasah oleh pengalaman, keberhasilan mengatur organisasi, kepandaian berbicara, bila tak hati-hati, dalam cara berkomunikasi ia akan mensamadengankan suami dengan mitra bisnisnya, teman sejawatnya, bahkan anak buahnya.

Mari kita lihat ibunda Khadijah membawa diri dihadapan sang suami. Ibunda Khadijah adalah istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kelembutannya, akhlak, kasih sayangnya, serta pengorbanannya, meniscayakan beliau menjadi istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke rumah dalam keadaan ketakutan.

Wajah beliau pucat dan keringatnya membasahi sekujur badan.

Khadijah kaget dengan keadaan suaminya itu.

Naluri seorang istri tentu ingin tahu mengapa suaminya pulang dalam keadaan seperti itu. Tapi saat yang bersamaan tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  lebih butuh ketenangan.

“selimuti aku, selimuti aku”, tukas nabi bergegas ke pembaringan.

Khadijah mengikutinya dari belakang. Lalu diselimutinya sang suami terkasih. Tak hanya dengan kain, tapi ia melingkarkan pelukan untuk menjadi selimut kehangatan. Malam itu, terasa panjang bagi Khadijah untuk menunggu penjelasan sang suami.

Tidak mudah untuk menahan Tanya sekedar: “ada apa denganmu, ceritakan apa yang terjadi?”.

Khadijah sadar, pertanyaan itu penting baginya sebagai istri, tapi mungkin saja tidak penting bagi suaminya.

Maka hingga menjelang pagi, Khadijah sanggup tak berkata sepatah katapun.

Hingga akhirnya, ketika keadaan mereda, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menceritakan pengalamannya.

Inilah bentuk kepekaan dan kecerdasan emosi ibunda Khadijah. Tidaklah ia lahir melainkan dari sikap penghormatan yang tinggi kepada suami. Dan ingat, ini dilakukan bukan oleh wanita polos dan lugu, lho. Wanita yang rela diam semalaman itu adalah bos perusahaan, pebisnis handal, dan cerdas.

Sebagai seorang saudagar kaya, yang sukses memanajemen perusahaan besarnya, tetap tak melalaikan beliau sebagai istri yang harus taat pada suaminya.

Bersamaan posisi beliau sebagai seorang pejabat, dirumah beliau justru memposisikan diri sebagai pelayan suaminya. Suatu ketika Khadijah mengantarkan makanan sendiri untuk sang suami. Padahal ia punya beberapa pembantu. Bersamaan dengan itu malaikat Jibril turun dan berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai Rasulullah, Khadijah sebentar lagi datang menemuimu mengantarkan makanan dan minuman. Apabila dia sudah datang, sampaikan salam kepadanya dari Tuhan dan dariku, dan sampaikan bahwa untuknya di Surga telah disediakan istana dari mutiara yang tidak ada keributan dan kesusahan di dalamnya.” (HR Bukhori).

Satu lagi sebenarnya yang menjadi ujian Ibunda Khadijah dan beliau lulus dengan nilai sangat memuaskan. Yaitu, suaminya “terlalu” sholeh. Hehe, sebenarnya tidak ada istilah “terlalu” sholeh.

“terlalu sholeh” hanya ada dalam kamus para istri yang gagal move on dari menuruti nafsu. Gagal mengimbangi kebaikan dan keshalehan suaminya. Ini menjadi ujian tersendiri. Contoh istri-istri gagal yang kemudian memandang suaminya sholehnya keterlaluan, adalah istri nabi Nuh ‘alaihi salam dan Nabi Lut ‘alaihi salam.

Coba kita perhatikan. Suami memenuhi kebutuhan orang tuanya adalah kesholehan.

Suami berinfak dalam jumlah yang lumayan besar, adalah kesholehan.

Suami banyak puasa sunnah, adalah kesholehan.

Suami memberikan pinajaman uang kepada temannya, adalah kesholehan.

Suami pergi beberapa hari untuk urusan kebaikan, adalah kesholehan.

Suami tidak mau sering-sering diajak ke mall karena takut tidak bisa menjaga pandangan, adalah kesholehan.

Alih-alih dilihat sebagai sebuah keberuntungan, justru bagi sebagian istri itu semua dianggap semacam gangguan. Melihat sebuah pohon mawar, ia tak menikmati indahnya bunga tapi lebih mengeluhkan duri-durinya. Satu kata: taubat!

Keshalehan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai membuat harta istrinya terkuras habis untuk dakwah beliau. Bisnisnya di boikot, sehingga keluarga kaya itu jatuh miskin. Tapi dari sanalah Ibunda Khadijah memparadekan kemuliaannya.

Baginya, suami sholehnya adalah karunia besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hilangnya harta dan kenyamanan, adalah harga yang tergolong murah untuk membeli pendamping yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang darinya kelak pintu surga terbuka lebar untuknya. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *