Amal yang Terbakar

amal yang sia-sia

Oleh: Evie S. Zubaedi.

Dalam suatu ayat dalam Al-Quran, ketika Nabi Musa diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menemui Fir’aun, raja Mesir tersebut berseru kepada kaumnya dengan berkata,

“Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan bukankah sungai-sungai ini mengalir di bawah kakiku, maka apakah kalian tidak melihatnya? Bukankah aku lebih baik dari orang hina ini dan hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk menggiringnya?” (Az-Zukhruf [43]: 51-53)

Kesombongan selalu menemukan alasannya untuk meremehkan.

Seperti Fir’aun menemukan alasan meremehkan Nabi Musa ‘alaihi salam yang dipandangnya banyak memiliki kekurangan dan tidak sedikitpun memiliki kelebihan untuk mengunggulinya.

Iblis menemukan alasan bahwa dirinya lebih baik dari Adam dari asal penciptaan.

Qorun menemukan alasan bahwa kekayaan dan ilmu yang ada padanya menjadikannya lebih baik dari sesama.

Karena semua kesombongan memiliki alasan untuk merendahkan dan meremehkan.

Yang ternyata kisah-kisah itu tidak hanya terjadi dahulu. Namun sampai hari ini. Hari dimana kita sedang berpayah-payah dengan mengumpulkan amal. Amal-amal yang kita harapkan menjadi pahala. Dan sangat mungkin, kisah-kisah itu menimpa kita, dalam kesadaran ataupun tidak.

Karena tabiat kesombongan adalah sangat samar dan halus.

Sehingga pemiliknyapun tak mampu sadar, bahwa dia dalam kondisi celaka. Karena, tidak ada penghancur amal yang lebih dahsyat daripada kesombongan. Yang menjadikan apapun kebaikan yang telah terbangun, terbakar tanpa sisa.

Anak-anakku,

Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kita dengan banyak kebaikan. Kepandaian, kekayaan, ketenaran, kekuasaan, jabatan atau apapun yang berbentuk kemasyuran.

Berhati-hatilah kalian apabila ada di dalamnya. Karena ia akan menghembus-hembuskan rasa lebih dan rasa unggul dari yang lain. Karena sangat mungkin dengan kepandaian, tiba-tiba disergap rasa untuk merendahkan orang lain.

Karena juga sangat mungkin, dengan jabatan, dengan kekayaan, atau ketenaran, lalu meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.

Karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.

Karena sekali lagi bunda katakan, bahwa kesombongan menghanguskan segala kebaikan.

Karena kesombongan menghalangi kebenaran.

Kalau saja kita tahu, bahwa prahara yang terjadi di muka bumi ini selain karena ketamakan. Juga dikarenakan oleh keangkuhan dan kekuasaan yang berbalut kesombongan.

Duhai anak-anakku,

Mungkin tak terhitung kebaikan yang sudah kita kerjakan.

Berdiri dalam sholat di malam-malam ketika orang lain terlelap. Bercengkerama bersama al-Qur’an dalam bilangan khatam yang banyak. Atau mungkin kumpulan sodaqoh yang sudah lagi mampu dihitung dalam jumlah rupiah, karena banyaknya.

Namun sayangnya kadang kala tak sempat terekam dalam catatan para malaikat.

Terhapus karena satu hal, terselip di antaranya, yaitu kesombongan.

Begitulah anakku,

Kesombongan itu begitu samar.

Menyusup di antara kemulian yang seharusnya menghantarkan kita dalam kebaikan.

Namun sayangnya, dia mati sebelum menjadi embrio.

Gugur sebelum berkembang.

Alangkah sia-sianya.

Dan celakanya, yang pastinya berbuah petaka.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci kesombongan.

Dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Kesombongan adalah jubahKu dan keagungan adalah pakaianKu. Siapa yang menyaingiku pada salah satunya, Aku akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Muslim)

Dan di riwayat yang lain, dengan terang benderang dijelaskan bahwa ia menghantarkan pelakunya ke neraka.

“Janganlah kalian mempelajari ilmu pengetahuan untuk membanggakan diri dihadapan ulama, dan jangan pula memanfaatkannya untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan pula melakukannya hanya agar kalian dapat berbicara dalam majelis-majelis. Siapa yang melakukan hal itu, baginya dalah neraka dan neraka” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

Duhai anakku,

Tahukah kalian, bahwa iblis terlaknat bukan karena ia tidak bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun ia terlaknat lebih karena kesombongannya.

Bisa jadi ibadah-ibadah kita menjadi tidak ternilai bukan karena tidak percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun hangus terbakar karena rasa lebih di dalam dada.

Ternyata ini bukan perkara kecil.

Sangat besar bahkan.

Namun sayangnya, sangat sedikit dari kita yang benar-benar menyadari. Dan benar-benar berhati-hati untuk urusan penting ini.

Padahal, kesombongan sepertinya telah bergelimang dalam keseharian. Baik dalam sunyi maupun terang-terangan. Sendiri atau bersama. Alangkah celakanya!

Dalam sejarah, pernah tertulis sebuah peristiwa. Bahkan kesombongan sering berbentuk keburukan dalam jenis yang lain.

Dikatakan oleh Ibrahim ‘alaihi salam kepada Namrudz,”Rabbku itu, menghidupkan dan mematikan.”

Dengan senyuman Namrudz pun berkata kepada Ibrahim,”Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan.”

Lalu dihadirkan dua orang tawanan.

Satu orang dibebaskan.”Dia ini yang aku bebaskan.”

Yang satu lagi dipancung.”Dia inilah yang kumatikan.”

Ketika seseorang telah terjangkiti kesombongan, maka ia menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran.

Dan ketika kebenaran telah sampai padanya, ia akan berupaya mencari pembenaran untuk kemudian menolak kebenaran.

Rasanya kejadian-kejadian sejarah itu, sangat dekat dengan keseharian ini. Bahkan rasanya baru saja dialami.

Namrudz-Namrudz di era digital.

Dan tidak berlebihan kalau kita seharusnya menakar, jangan-jangan kitalah Namrudz-Namrudz itu. Astaghfirullah…..

Anak-anakku,

Masih terngiang kata-kata Fir’aun, “Bukankah kerajaan mesir ini kepunyaanku….

Seperti biasa yang kita katakan, “Bukankah ini rumahku. Bukankah ini perusahaanku. Bukankah aku seorang Doktor. Bukankah aku yang berkuasa. Bukankah….

Amal-amal yang terbakar. Hangus tanpa sisa dan dalam kubangan neraka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *