Tanamlah Tunas Kurma itu, Meski esok Kiamat!

tunas pohon kurma

Satu dorongan untuk hidup optimis dari Rasulullah adalah sabda beliau tentang menanam kurma.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bila hari kiamat tiba dan ditangan salah seorang dari kalian terdapat tunas pohon kurma, maka tanamlah!” (HR. Ahmad)

Tahukah kita apa maksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda demikian?!

Ya, beliau mengajak kita untuk optimis, meyakini dan tetap konsisten menjalankan amal-amal kebaikan dalam situasi apapun.

Beliau mengukur kekacauan situasi itu dengan hari kiamat.

Adakah yang lebih kacau dari hari kiamat?

Hari dimana hancurnya alam semesta, meletusnya gunung-gunung, bertabrakannya planet-planet, bumi pecah berantakan, beterbangannya jasad manusia yang hidup maupun yang mati.

Tidak ada yang lebih dahsyat daripada peristiwa hari kiamat.

Belum lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil permisalan yang ditanam adalah tunas kurma. Sebuah tanaman yang untuk melihat buahnya, butuh menunggu 4 sampai 7 tahun lamanya.

Sebuah gambaran yang sangat paradoksal.

Kiamatnya besok, panennya tujuh tahun lagi!

Akan tetapi kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam andai dikabarkan esok kiamat akan terjadi, sedangkan di tangan ada setunas pohon kurma, tanamlah.

Ya, tanamlah walaupun harapan akan buahnya tidak masuk di akal kita.

Tetaplah menanam, agar ia menjadi harapan bagimu. Karena dalam harapan itu tersimpan kebaikan bagimu. Tersimpan pahala niat, juga tertulis pahala ikhtiar. Meskipun engkau yakin tunas itu esok akan hancur lebur bersamaan dengan kiamat.

Itu bukan urusanmu.

Tanamlah.

Karena menanam adalah tanda engkau memiliki harapan kepada Sang Pemilik kehidupan.

Dan karenanya engkau layak menerima kebaikan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka engkau berharap dan bergantung kepadaNya.

Mari kita menimbang.

Apakah masalah yang mengancam dihadapan kita lebih dahsyat daripada hari kiamat?

Apakah keretakan rumah tangga yang sedang menghantui lebih huru-hara dari hari kiamat?

Apakah kegagalan kita dalam ujian sekolah, lamaran pekerjaan, meminang atau dipinang seseorang, lebih dahsyat kehancurannya daripada hari kiamat?

Haruskah engkau merasakan keluluhlantakan korban tsunami untuk mengetahui betapa hari kiamat jauh lebih dahsyat dari itu?

Tidak saudaraku.

Semua ujian yang kita alami tidak ada apa-apanya.

Jangankan dibanding hari kiamat. Dibandingkan dengan orang lain pun, kita bukanlah orang yang paling susah di dunia ini.

Maka optimislah.

Bila di hadapan yang ada hanya kegelapan, melangkahlah dengan cahaya keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallaahu A’lam Bisshowab. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *