Sejarah Perang Salib Kedua

Dalam fase kebangkitan selanjutnya, putra Zengi yaitu Nuruddin (w. 1174) berusaha mengumpulkan kekuatan militer dan juga melakukan propaganda yang sangat kuat. Nuruddin secara perlahan menyatukan wilayah Mesir dan Suriah dan mengepung Negara-negara kekuasaan kaum Frank yang tersisa. Pengepungan tersebut dimulai dari wilayah Antiokhia.

Perang Salib Kedua

Lukisan Perang Salib

Takluknya wilayah Edessa dan rentannya Antiokhia terhadap serangan telah memicu seruan dan pengiriman pasukan untuk menghadapi Perang Salib Kedua pada tahun 1147-1148 di bawah komando Conrad III, kaisar Jerman, dan Louis VII, raja Prancis. Perang Salib Kedua ini mengalami kegagalan. Pasukan Salib tidak berhasil merebut kota Edessa dan gagal menghentikan meluasnya wilayah kekuasaan Nuruddin.

Nuruddin menaklukkan Damaskus pada 1154 dan mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa kaum Muslim yang tertinggi di Suriah. Nuruddin dan Pasukan Salib kemudian bersama-sama mengalihkan perhatian mereka ke Mesir dan Dinasti Fatimiyah yang saat itu tengah mengalami perpecahan internal. Wilayah Ascalon sebelumnya telah ditaklukkan oleh kaum Frank pada tahun 1153 dan beberapa faksi di istana Fatimiyah memberikan bantuan akomodasi untuk mereka. Sementara yang lain berpihak pada Nuruddin.

Pasukan Muslim yang dikirimkan di bawah komando prajurit kurdi yang bernama Syirkuh pada tahun 1168-1169 berusaha mencegah Pasukan Salib untuk menaklukkan Mesir. Shalahuddin (Saladin) al-Ayyubi, keponakan Syirkuh, mengambil alih kepemimpinan pasukan kaum Muslim di Mesir pada bulan Maret 1169 setelah pamannya itu meninggal. Dengan bertindak secara resmi sebagai pembantu Nuruddin, Saladin menguasai Dinasti Fatimiyah pada tahun 1171. Nuruddin telah berhasil menyatukan fondasi penyatuan kaum Muslim dan menegaskan kembali legitimasi bahwa satu-satunya kekhalifahan adalah khalifah ‘Abbasiyah yang bermazhab Sunni.

Saladin 569-589 H / 1174-1193 M.

Saladin berikutnya menjadi pemimpin kaum Muslim dalam Perang Salib. Ia juga menjadi pemimpin Perang Salib yang paling popular. Sepanjang tahun 1174-1178, Saladin berupaya untuk menundukkan lawan-lawannya dari kalangan kaum Muslim sendiri dan menciptakan front bersama di Mesir dan Suriah untuk melawan pasukan Salib.

Akhirnya pada tahun 1187, Saladin memerangi pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Guy dari Lusignan dalam pertempuran besar Hattin pada 4 Juli dan meraih kemenangan besar dalam perang tersebut. Penaklukkan kembali wilayah-wilayah pasukan Salib yang penting seperti Acre terus berlanjut. Kemenangan Saladin mencapai puncaknya saat ia berhasil merebut kembali Yerusalem pada tanggal 2 Oktober 1187. Pada akhir 1187 hanya beberapa bagian kecil kerajaan Latin Yerusalem yang masih berada dalam kekuasaan pasukan Salib, terutama Tirus. Saladin telah menciptakan sistem kekuasaan keluarga kolektif, yaitu dengan menempatkan kerabat-kerabatnya dan menugaskan mereka untuk mengawasi kota-kota dan wilayah-wilayah utama yang ditaklukkannya, sehingga tercipta kesatuan. Saladin mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan kemudian sistem ini diikuti oleh penerusnya yang dikenal dengan sebutan Ayyubiyah, yang merupakan dinasti keluarganya sendiri.


Baca Juga:

  1. Periode sebelum Perang Salib
  2. Perang Salib Pertama
  3. Perang Salib Kedua
  4. Perang Salib Ketiga dan Keempat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *